Selasa, 15 April 2014

Penguntit

Kini aku sudah lega. Tidak lagi gelisah. Dia sudah pergi. Tidak ada lagi orang yang menguntitku, dan tidak ada lagi anak panti yang bertanya-tanya padaku.
Aku tinggal di panti asuhan bersama beberapa teman yang baru kukenal. Sejak tidak punya rumah, pembantuku menitipkan aku ke sebuah panti asuhan. Saudara yang lain juga sependapat. Katanya anak remaja seperti aku harus punya banyak teman untuk diajak bicara. Jadi mereka meninggalkanku di sini. Tapi bagiku, anak-anak di sini tidak akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan ayah dan ibu. Jadi percuma saja aku berbicara pada mereka. Mereka tidak tahu apa-apa.
Sejak rumahku terbakar, ayahku meninggal, dan ibuku sakit jiwa, ada seseorang yang diam-diam mengikutiku. Entah sudah berapa lama orang itu mengikutiku. Aku baru menyadarinya beberapa hari yang lalu. Saat itu, aku duduk di pekarangan belakang panti asuhan. Seperti biasanya, aku hanya merenung dan menghindari anak-anak lainnya yang selalu bertanya-tanya tentang aku. Tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang memerhatikan gerak-gerikku. Aku tetap diam ditempat. Bola mataku bergerak ke kanan dan ke kiri. Tapi jangkauan mataku belum menemukannya. Jika aku bergerak, aku takut orang itu akan hilang dan aku tidak akan tahu siapa dia.
Aku berusaha mencari sosoknya di sudut jangkauan mataku. Lama-lama bulu kudukku merinding. Aku merasa sosok misterius itu dekat di belakangku. Aku takut dia akan menyerangku dari belakang. Tanpa menoleh ke belakang, aku berlari ke dalam kamar. Teman-teman melihatku. Mereka kelihatannya heran. Aku tidak peduli. Aku tetap berlari menuju kamar lalu tidur.
Keesokannya, aku kembali ke pekarangan belakang. Dengan berjalan setengah mengendap karena takut ada seseorang yang tahu keberadaanku, aku kembali duduk dan merenung. Teman-teman mengajakku bermain. Tapi aku tidak mau. Mereka tidak mengerti aku sedang sedih dan terpukul. Mereka malah mengajakku bermain. Mereka meledekku. Karena itu lebih baik aku duduk di pekarangan belakang.
Saat aku duduk merenung, tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang memperhatikanku. Sepertinya orang yang kemarin mengintipku datang lagi. Tapi sekarang aku merasa orang itu semakin berani mendekatiku. Bulu kudukku berdiri. Keringat dingin muncul. Badanku menggigil. Tapi kuberanikan diri untuk menoleh kebelakang. Saat aku menoleh, aku melihat sosok yang tinggi dan sedikit kurus dengan tubuh yang hitam pekat berada di belakangku. Aku sontak berteriak dan berlari. Aku berlari sekencang mungkin, tapi dia masih mengikutiku. Aku bersembunyi di balik pohon beringin besar di pekarangan belakang. Dengan nafas yang ngos-ngosan, aku mengintip dari balik pohon. Orang itu sudah hilang. Aku kembali mengatur nafasku. Aku harus berlari menuju ke dalam panti. Agar orang itu tidak dapat mengikutiku.

Aku berlari dengan langkah yang sangat lebar. Dia mengikutiku. Aku berputar melewati pintu sebelah barat panti. Dia tetap mengejarku. Aku berlari secepat mungkin untuk menggapai pintu barat panti dan berharap dia tidak dapat mengejarku di dalam panti. Tapi yang kutahu, dia pasti mengikuti masuk ke dalam panti karena aku tidak sempat menutup pintunya. Aku berteriak minta tolong dan berlari menuju kamar, kemudian sembunyi di balik selimut. Tidak lama kemudian anak-anak panti yang lainnya datang. Mereka semua panik dan bertanya padaku. Tapi benar dugaanku. Mereka tidak tahu apa-apa.
Aku mengusir mereka keluar dari ruangan. Aku perlu berpikir, mencari cara bagaimana agar orang ini berhenti mengikuti. Aku ingat. Di ujung jalan sebelum ke panti, ada sebuah jembatan. Di bawahnya ada tebing yang curam. Segera aku berlari. Penasaran, aku menoleh ke belakang. Dan benar saja. Orang itu masih saja mengikutiku. Aku berlari kencang menuju ujung jalan. Dengan optimistis aku tertawa. Sebentar lagi aku akan mengusirnya. Aku berteriak memakinya dan mengancamnya untuk berhenti mengikuti sebelum tiba di jembatan. Tapi sepertinya dia tidak peduli dengan ancamanku. Ternyata nyalinya besar juga. Aku semakin kencang berlari. dan setiba di pinggir jembatan. Aku berhenti. Aku memberanikan diri untuk berhadapan dengannya. Aku tertawa. Dia ikut tertawa. Aku melompat. Dia ikut melompat.
Benar saja. Setelah aku melompat dari jembatan, dia sudah tidak mengikuti lagi. Sepertinya dia sudah mati. Bagaimana mungkin dia masih hidup setelah melompat ke tebing yang banyak bebatuan dengan kedalaman 25 meter. Aku tertawa puas dan kembali ke panti asuhan. Berjalan santai sambil sesekali menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada sosok hitam kurus yang menguntitku.

Kini aku sudah lega. Tidak lagi gelisah. Dia sudah pergi. Tidak ada lagi orang yang menguntitku, dan tidak ada lagi anak panti yang bertanya-tanya padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar