Sabtu, 08 Februari 2014

Biar Saja Terjadi Endapan

Kau tahu? Aku sudah mendeteksi zat-zat aneh yang muncul padaku saat pertama melihat kau berjalan menghampiri. Ada yang membuncah di ubun-ubun. Entah zat apa ini. Yang pasti ini seperti perubahan kimia, yang menimbulkan zat baru. Ada pembentukan endapan baru, ada perubahan warna.
Aku seperti air kapur yang kemudian kau tiup yang awalnya akan menjadi keruh, lalu beberapa saat kemudian jernih dengan endapan di dasarnya. Kau membuatku keruh. Saat membaca pikiranmu lewat semua gerak-gerik dan tuturmu, aku tak mengerti. Tapi aku tahu ada yang harus kuketahui dan kumengerti. Namun lagi-lagi kau membuatku keruh yang tak berendap.
Aku seperti air kapur yang keruh. Bingung mencari jernih. Saat membaca pikiranmu lewat semua senyum dan tawamu, aku tak mengerti. Tapi aku tahu ada yang harus kuketahui dan kumengerti. Namun kau masih membuatku keruh, tak kutemukan jernih menghampiriku.

Kau seperti hembusan karbondioksida yang mengeruhkan air kapur. Memutihkan yang bening, menggertak yang hening. Aku hening saat itu, namun tidak saat ini. Aku tahu ada yang mulai mengendap perlahan di dasar saat aku mulai menemukan jernih. Aku tahu. Aku mengerti.
Kau seperti hembusan karbondioksida yang meninggalkan endapan. Entah akan memadat kah jika kubiarkan untuk beberapa lama. Biar saja seperti ini. Jika aku koyak, aku takkan melihat endapan di air sejernih ini, atau bahkan bisa saja kau kembali membuatku keruh dan takkan meninggalkan endapan lagi untukku. Biar saja seperti ini. Mengendap di dasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar