Kamis, 12 Januari 2012

WACANA



Wacana merupakan kata yang tak asing lagi bagi telinga kita, dalam berbagai konteks pembicaraan pun, kata wacana ini juga sering muncul dalam proses komunikasi, dan dalam setiap konteks pun terkadang makna wacana berubah sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. Misalnya dalam kalimat berikut “ Korupsi dan koruptor di Indonesia merupakan wacana yang menarik saat ini”, dan kalimat “ Ah, itu hanya sekedar wacana ”. Dari kedua kalimat tersebut sudah dapat kita tangkap bahwa makna kata wacana dari kedua kalimat diatas berbeda. Jika pada kalimat pertama, kata wacana memiliki arti ‘topic pembicaraan’, sedangkan pada kalimat kedua memiliki arti ‘bahasan yang ringan, yang sepele dan yang tidak penting’.

            Jika makna dari wacana dapat berubah sesuai dengan konteks dan situasi, lalu apakah sesungguhnya kata wacana memiliki banyak makna?Lalu apa hubungan Wacana dengan konteks?

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, wacana didefenisikan sebagai: (1) ucapan, perkataan, tutur; (2) keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan; (3) satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan utuh seperti novel, buku, atau artikel, atau pada pidato, khotbah, dan sebagainya.

Dari asal usul katanya, kata ‘wacana’ berasal dari bahasa sanskerta, yaitu dari kata vacana yang berarti ‘bacaan’. Kata vacana itu, masuk ke dalam bahasa Jawa Kuno menjadi wacana (wacana) dan selanjutnya masuk ke dalam bahasa Indonesia wacana yang berarti ‘ komunikasi verbal, percakapan’. Di dalam tata bahasa, wacana dipahami sebagai satuan bahasa yang berada di atas tataran kalimat, yang dimaksud adalah wacana utuh. Apa yang disebut sebagai gugus kalimat, paragraph, pasal, sub bab, bab, dan episode, merupakan bagian atau penggalan wacana. Wacana mencakup wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan disebut pula percakapan atau tuturan. Wacana tulis disebut pula teks (Wedhawati dkk, 2001:595-596)

            Menurut beberapa pengertian diatas, dapat kita tangkap bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang berada di atas tataran kalimat. Jadi wacana merupakan satuan yang lebih kompleks daripada kalimat, yang didalamnya mencakup kata, frasa, klausa dan  kalimat. Diantara kesemua susunan antara kalimat per kalimat dan kata per kata tersusun secara padu dan bermakna.

Guy Cook menyebut tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana, yaitu teks, konteks, dan wacana. Eriyanto kemudian menjelaskan ketiga makna tersebut, “Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi. Wacana disini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama”. ([online] http://cenya95.wordpress.com/)

Dari pengertian yang diberikan oleh Guy Cook dan Eriyanto, menggambarkan wacana adalah perbaduan atau gabungan antara teks dan konteks. Dapat pula kita simpulkan bahwa wacana adalah bentuk ekspresi komunikasi termasuk musik, gambar, efek suara citra dan sebagainya, yang terikat pada situasi dan hal yang berada diluar teks seperti penututur dan tempat teks tersebut dituturkan.

Seperti pengertian berikut :

Wacana adalah kesatuan makna(semantis) antar bagian di dalam suatu bangun bahasa, dan wacana juga terikat pada konteks.(Kushartanti dkk,2005: 92-93)

Agaknya dari yang dikemukakan oleh Guy Cook bersama eriyanto dan Kushartanti dalam bukunya yang berjudul Pesona Bahasa memiliki maksud yang sama dalam mengungkapkan makna dari kata wacana. Mereka sama-sama menyimpulkan bahwa wacana terikat pada konteks.

Dasar sebuah wacana ialah klausa atau kalimat yang menyatakan keutuhan pikiran. Wacana adalah unsur gramatikal tertinggi yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh dan dengan amanat yang lengkap dengan koherensi dan kohesi yang tinggi. Wacana utuh harus dipertimbangkan dari segi isi (informasi) yang koheren sedangkan sifat kohesifnya dipertimbangkan dari keruntutan unsur pendukungnya yaitu bentuk.

            Dari berbagai pengertian diatas, dapat kita tangkap bahwa dalam berkomunikasi memang tak lepas dari situasi dan penutur, karena memang komunkasi terjadi dalam lingkungan dan oleh manusia. Tentu sebagai tata kebahasaan yang lebih tinggi dari kalimat, yang tersusun dari kata, frasa, klausa, kalimat dan paragraf, memiliki keterikatan dan keterpaduan. Keterpaduan dalam wacana akan tercipta apabila sesuai dengan konteks. Jika wacana tersebut hanya berupa sebagai bahasa dan tanpa konteks, maka wacana itu takkan bisa dipahami. Misalnya :

Hati-hati anjing galak!

Jika penempatan teks tersebut tak sesuai dengan situsi dan kondisi yang ada(konteks) maka kalimat tersebut tak memiliki arti sesuai dengan konteks, jadi kalimat tersebut tidak padu atau tidak kohesi.

Kata wacana memang sudah tidak asing bagi kita. Bahkan dimanapun kita akan menemukan sebuah wacana. Namun pengertian kita akan wacana mungkin akan sedikit goyah mengingat banyaknya definisi tentang wacana oleh tokoh-tokoh yang menyorot ‘wacana’.

Kata wacana bila kita amati bentuknya serta maknanya mungkin tak jauh dari kata bacaan. Terkadang sebagian besar orang menganggap bacaan itu sama saja dengan wacana. Lalu, bagaimana kebenarannya?

Bacaan merupakan kata yang terbentuk dari kata baca. Baca menurut kamus bahasa indonesia yaitu : melihat dan menghayati suatu tulisan. Jika kata baca mendapat akhiran –an, maka maknanya akan berubah menjadi sesuatu yang dibaca.Berarti bacaan memiliki arti tulisan yang dilihat serta dihayati.

Kalau makna wacana tak jauh dari kata bacaan maka, setidaknya wacana memiliki arti yang sama atau hampir mirip dengan kata bacaan.

Wacana berasal dari bahasa sansekerta yang kemudian masuk kedalam bahasa jawa kuno, yaitu wacana, yang kemudian masuk kedalam kosa kata bahasa indonesia sebagai kata bacaan.
           
Jika kita gabungkan dengan definisi-definisi yang telah ada sebelumnya tentang wacana, maka dari berbagai definisi yang telah kita temukan dari berbagai tokoh dan sumber, dapat kita tarik benang merah, bahwa Wacana ialah suatu ekspresi komunikasi yang tertuang dalam bentuk percakapan maupun teks, yang terdiri dari susunan tatanan kebahasaan seperti kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf yang tersusun secara padu dan kompleks serta terikat pada konteks.

Seperti yang telah disimpulkan diatas, bahwa Wacana tak hanya terdapat pada komunikasi tulis saja, tetapi dalam komunikasi lisan juga kita kenal wacana. Wacana dalam komunikasi lisan disebut percakapan, sedangkan wacana pada komunikasi tulis disebut teks.

“ Berdasarkan saluran komunikasi, wacana dibedakan atas wacana lisan dan wacana tulis. Salah satu ciri wacana lisan yaitu adanya penutur dan mitra tutur. Sedangkan dalam wacana tulis ditandai degan adanya penulis dan pembaca. “(Kushartanti dkk, 2005 : 94)

Antara wacana tulis dan wacana lisan tetap sama-sama terikat dengan konteks. Konteks yang dimaksud antara lain yaitu : pengguna atau penulis kalimat tersebut, pembaca, tempat dan waktu.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa wacana merupakan kesatuan makna yang utuh dan koherensi didalam suatu ekspresi komunikasi yang tertuang dalam bentuk percakapan maupun teks dan terikat pada konteks.

            Telah kita rumuskan satu teori tentang Wacana, yaitu : “wacana merupakan kesatuan makna yang utuh dan koherensi didalam suatu ekspresi komunikasi yang tertuang dalam bentuk percakapan maupun teks dan terikat pada konteks.”

            Wacana merupakan kesatuan makna yang utuh. Jika sebelumnya kita mengerti dan menyinkronkan wacana sama dengan makna kata bacaan, maka wujud bacaan atau wacana adalah sebuah teks baik berupa lisan atau tulisan. Sedangkan dalam teori wacana yang telah dirumuskan, wacana merupakan kesatuan makna. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Makna : Arti.
Jadi, wacana merupakan kesatuan arti yang utuh. Teori berikut agaknya kurang mampu menyeimbangi makna wacana dengan bacaan. Jika kita menyepadankan kata”Kesatuan arti yang utuh” dengan “perpaduan teks dan konteks”. maka teori sebelumnya yang telah terbangung kurang mampu mewakili arti wacana sesungguhnya.

            Wacana bukanlah sebuah bentuk yang immaterial, namun, wacana juga merupakan bentuk materiil. Wacana bukanlah hanya mewakili pada arti belaka, namun wacana merupakan tingkatan kebahasaan yang tinggi, yaitu perpaduan antara klausa-klausa, kalimat-kalimat dan antar paragraf yang disusun secara koherensi dan bergantung pada konteks.
           
Klausa atau kalimat yang menyatakan keutuhan pikiran adalah dasar dari wacana. Jika kita mengartikan bahwa wacana adalah kesatuan arti yang utuh, maka teori tersebut agaknya kurang lengkap. Memang dalam sebuah Wacana dikatakan bahwa unsur gramatikal tertinggi yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh dan dengan amanat yang lengkap dengan koherensi dan kohesi yang tinggi. Namun bentuk wacana tak hanya pada arti, sperti yang diungkapkan diatas, bahwa wacana juga berupa teks. Sedangkan arti kata Teks menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu Bahan Tulisan.

Jadi, wacana adalah kesatuan teks yang memiliki unsur yang lengkap yang diantara unsur-unsur tersebut terdapat keterpaduan dan terikat pada konteks.

Namun, apakah benar wacana terikat dengan konteks? Untuk mengetahui kebenarannya, kita simak contoh berikut :

A         : “Bu, Ayam...”
B          : “Sepuluh ribu”

            Jika kita lihat pada wacana diatas, merupakan wacana dalam bentuk lisan, percakapan tersebut akan dimengerti jika dilakukan di dalam pasar. Karena situasi yang lebih membutuhkan bahasa komunikasi yang efektif dan komunikatif, maka lebih digunakan bahasa yang tak begitu baku(dalam bentuk kalimat yang baku) namun lebih kedalam pragmatik.

Begitu pula pada bentuk wacana tulisan. Sperti contoh yang telah tersajikan diatas. Konteks yang dimaksud seperti penempatan tulisan yang disesuaikan dengan sikon sekitar. Contoh yang lebih mudah, seperti pembuatan surat. Penulisan surat resmi dengan penulisan surat pribadi tentu sangatlah berbeda, hal ini dikarenakan tujuan surat dikirim tersebut berbebeda, dan menyesuaikan konteks.

            Jadi, konteks memang berpengaruh pada pembentukan wacana. Agar wacana tersebut dapat dimengerti dan memiliki makna yang utuh, Wacana utuh harus dipertimbangkan dari segi isi (informasi) yang koheren sedangkan sifat kohesifnya dipertimbangkan dari keruntutan unsur pendukungnya yaitu bentuk.

            Namun, jika telah disumpulkan bahwa Wacana merupakan kesatuan yang kompleks dan utuh, serta syarat untuk menjadi wacana yang utuh yaitu mempertimbangkan isi dan informasi yang koheren serta runtut dalam bentuk, maka tak perlu lagi konteks dimasukkan kedalam pengertian ini. Sesuatu yang kompleks dan merupakan sesuatu yang utuh pula, tentu dalam sekejap mampu dipahami. Karena didalam wacana yang merupakan kesatuan yang kompleks dan utuh, segala informasi sudah koheren dan kohesi serta pesan dan maksud dari wacana tersebut sudah tersampaikan. Lalu apa guna konteks? Sepertinya memang konteks tak perlu lagi dibicarakan dalam lingkup wacana.

            Mari kita simak contoh wacana berikut :

                        Di Era demokrasi yang semakin membaik, kita menikmati iklim kebebasan informasi yang sehat. Informasi yang bebas akan membantu dalam memperbaiki beberapa atau seluruh aspek untuk kebaikan negeri ini. Iklim kritik yang sehat, umpan balik yang hidup, semuanya adalah pesta bagi hidupnya media massa di Indonesia. Media pun tampaknya makin sadar, perjuangan mereka bukan terpatok pada sponsor yang banyak, namun untuk memberitakan dengan lebih baik kepada para pembaca.

            Dari contoh diatas dapat jelas kita tangkap informasi yang lengkap, tanpa perlu mencari dan melihat konteksnya. Terdapat pula kepaduan antar kata dan kalimat, sehingga mudah dipahami. Teks diatas termasuk kedalam sebuah wacana. Jika teks diatas adalah wacana, yang telah dijelaskan sebelumnya, maka sesuai dengan contoh diatas, dapat kita tangkap bahwa wacana tak bergantung pada konteks.

            Untuk meredakan kerancuan antara “Wacana bergantung pada konteks” dan “wacana tak bergantung pada konteks”, mari kita menilik lagi dari awal, yaitu melihat kembali apa arti dari wacana yang sesungguhnya.

            Jika dilihat dari asal usul munculnya kata wacana yang telah teradaptasi ke bahasa Indonesia dari bahasa sansekerta kuno yaitu “vacana” kemudian diadaptasi lagi kedalam bahasa jawa kuno menjadi “wacana”, Wacana memiliki arti bacaan. Kemudian kita artikan lagi secara etimologi menjadi tulisan yang dilihat serta dihayati. Namun perlu kita ingat, wacana mencakup wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan disebut pula percakapan atau tuturan. Wacana tulis disebut pula teks.

            Wacana adalah tulisan yang dilihat serta dihayati. Tulisan, berarti dapat kita masukkan kata teks didalamnya, dan yang dimaksud teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Untuk mengetahui definisi wacana yang lengkap, kita pahami pengertian dari Guy Cook dan Eriyanto, yang mengatakan bahwa wacana adalah perbaduan atau gabungan antara teks dan konteks. Guy Cook dan Eriyanto mengatakan bahwa Konteks disini memiliki maksud memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi dimana teks tersebut diproduksi. Wacana disini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama”. ([online] http://cenya95.wordpress.com/)

Mari kembali pada contoh wacana yang telah disajikan diatas. Wacana diatas membicarakan tentang kegiatan media massa, tentu wacana tersebut disajikan sebagian besar untuk pengkonsumsi media massa, khususnya koran. Maka pemakaian bahasa yang lugas dan penuh analogi merupakan ciri yang memungkinkan dan sering kita temui dalam kolom-kolom media massa. Jika gaya penulisan yang seperti demikian diterbitkan pada buku-buku sains, tentu kurang seformat dengan buku-buku sains yang menggunakan ungkapan-ungkapan pasti. Apakah ini yang imaksud dengan konteks oleh Guy Cook dan Eriyanto?

Nampaknya memang wacana sangat bergantung pada Konteks. Seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya, bahwa penempatan teks yang tidak sesuai dengan situsi dan kondisi yang ada(konteks) akan membuat kalimat tersebut tidak memiliki arti dan informasi yang lengkap serta utuh, jadi kalimat tersebut tidak padu atau tidak kohesi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar