Kamis, 12 Januari 2012

Teori Isomorf Russel-Kesepadanan kata


 

            Dalam pemakaian bahasa Indonesia kalau kita kaji dengan teori atomisme Russel yaitu tentang kesepadanan kata atau isomorfi, terdapat banyak kata atau kalimat dalam bahasa Indonesia yang kabur akan kebenarannya dalam pengungkapannya.
            Mislanya pada “Buku Halus”. Jika kita mengkaji kata tersebut dengan teori Russel, tentunya akan ada sedikit kejanggalan yang kita temukan dalam pengungkapannya. Seperti yang kita ketahui, pada kata “Buku Halus” memiliki makna : Buku yang digunakan untuk menulis huruf latin. Kalau kita kaji satu per satu menurut kata dengan berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, seperti berikut :

a.                          Buku : Lembar kertas yang dijilid, berisi tulisan cetakan atau kosong dengan maksud untuk ditulis.

b.                          Halus : Lembut, lumat, kecil-kecil(tentang gula atau garam, dsb), tidak kasar, baik budi, baik bahasa, lembut tingkah lakunya, sopan, berakhlak baik, beradab, baik, bermutu tinggi.


Menurut teori Russel, bahwa bahasa adalah berhubungan lurus dengan kenyataan. Yang menjadi problema pada kata “buku halus” yaitu, apakah “buku halus” berhubungan lurus sesuai dengan kenyataannya?

(a) Buku Halus           X          (b) Kulit Halus          

Halus pada kata (a), tidak sepadan dengan Halus pada kata (b).
Dalam kenyataannya, halus(b) memiliki makna : tidak kasar, Lembut.

            (c) Kain Halus                        X          (d) Rambut Halus

            Pada perbandingan yang kedua, dapat kita lihat kesepadanan kata halus antara kata (c) dan kata (d). Halus pada kata keduanya memiliki maksud dan makna yang sama, yaitu : Tidak kasar, lembut.

(a) Buku Halus    X    (b) Kulit Halus    X    (c) Kain Halus    X    (d) Rambut Halus

Russel mengatakan “bahasa memiliki kesesuaian dengan struktur realitas dan fakta”. Jika kita setarakan keempat kata dalam satu barisan, dapat kita lihat jelas bahwa kata halus pada “buku halus”, tidak dapat mewakili esensi realitas pada “buku halus”.
Buku (halus)              X          Kulit (halus)  

         X                                          Y  


Untuk mengungkapakan sesuatu sesuai dengan realitas diperlukannya bahasa yang mewakili esensi realitas tersebut, yang memenuhi syarat logis.

Jika dilihat kenyataannya, buku halus itu tidak halus seperti rambut, kain dan kulit. Melainkan dengan ungkapan buku halus, mewakili maksud buku untuk menulis latin. Menulis huruf latin, disepadankan dengan kata halus. Tetapi yang kita tangkap secara inderawi atau pengalaman inderawi, yang dimaksud halus bukanlah merupakan tulisan latin yang seolah-olah dianggap halus dari pada tulisan biasanya. Melainkan halus dalam arti yang sesuai dengan pengalaman inderawi, seperti halus pada kain yang dapat kita rasakan dan ketahui karena adanya pengalaman inderawi. Seperti yang dikatakan oleh Russel, Analisis yang digunakan pada teori isomorf ini adalah analiss logis yang didasarkan pada struktur logika, oleh karena itu juga harus diikutsertakan sintesa logis. Sintesa logis merupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan melalui pengetahuan empiris.

Untuk menyepadankan antara X dan Y diatas, maka X akan kita rubah sehingga mampu mewakili esensi realitas.

Buku ((Tulis) Matematika)  =          Buku untuk menulis matematika
            X                                  =                                  Y



Buku (halus)                           ?          Buku untuk menulis latin
                        X                                  ?                                  Y

          Buku ((Tulis) Latin)              =          Buku untuk menulis latin.
                        X                                  =                                  Y

Jadi, untuk menyepadankan buku halus sesuai dengan realitasnya, maka kata halus pada buku halus sebaiknya diganti dengan “buku tulis latin”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar