Dalam semantik, ada beberapa
pendekatan dalam mengkaji suatu makna. Masing-masing pendekatan mengungkapkan
teori yang berbeda satu sama lain. Pendekatan tersebut yaitu pendekatan
kontekstual, pendekatan behaviorisme dan
pendekatan mentalisme.
Pendekatan konstektual mengandalkan
konteks dalam mengkaji makna. Menurut kaum konstektual, makna akan didapat jika
mengetahui konteks, dan mengatakan bahwa makna adalah konteks yang dapat
diamati. Pendekatan behaviorisme mengedepankan sign atau lambang. Menurut kaum
behaviorisme suatu wacana terdiri dari berbagai macam lambang, dan dari situlah
kita akan menemukan makna wacana tersebut. Sedangkan pendekatan yang terakhir
yaitu pendekatan mentalisme. Dalam pendekatan mentalisme, hal-hal seperti
konteks dan simbol-simbol itu tidak dianggap penting, justru yang penting dalam
mengkaji makna yaitu intuisi.
Lalu bagaimana ketiga pendekatan ini
dalam mengkaji makna? Pendekatan kontekstual, tentu akan melihat latar belakang
pada suatu . Memelajari makna berarti mengacu pada konteks. Makna kata adalah
penggunaannya di dalam bahasa. Misalnya wacana berikut “ Rajin sekali kamu.”
Tentu jika kita artikan tanpa melihat konteksnya, maka arti wacana tersebut
yaitu memuji sifat seseorang. Namun jika kita menganalisis koteksnya, maka bisa
jadi artinya berbeda sangat jauh dari arti yang sebelumnya. Jika kalimat
tersebut keluar dari mulut seseorang kepada temannya, ketika tahu bahwa
temannya datang tidak tepat waktu pada suatu acara, maka kalimat tersebut
berubah maknanya. Kalimat tersbut memiliki arti yang sebaliknya dari fakta.
Oleh karena itu, kaum konstektual memahami bahwa antara wacana dan konteks
tidak memiliki hubungan langsung.
Berbeda dengan kaum behaviorisme,
pendekatan ini melihat pada komponen-komponen yang membangun pada setiap
situasi komunikasi. Dalam setiap situasi komunikasi terkandung
komponen-komponen, yaitu tanda-tanda atau lambang-lambang, yang kesemua lambang
itulah yang nantinya akan mengemukakan suatu makna. Kajian makna dalam pendekatan
ini mengacu pada stimulus dan respon, jadi ada beberapa komponen didalamnya,
yaitu organisme yang menganggap suatu lambang, sesuatu yang dianggap lambang,
respon terhadap lambang dan respon sebagian. Misalnya, Anjing akan melakukan
gerakan ‘duduk’ jika mendengar peluit berbunyi tiga kali. Dalam hal ini, bunyi
peluit tiga kali itu dianggap lambang yang memiliki makna yaitu “ayo, duduk!”
Jadi, dalam pendekatan ini,
pengetahuan sebelumnya, atau pegalaman sebelumnya akan membantu mengungkapkan
makna suatu lambang.
Berbeda lagi dengan kaum mentalisme.
Kaum mentalisme ini menganggap kesemua hal, seperti konteks, dan
lambang-lambang yang menyusun suatu situasi makna tidak diketahui kebenarannya
tanpa menggunakan intuisi. Jadi yang terpenting adalah acuan atau intuisi.
Misalnya dalam wacana berikut “seorang presiden yang bijaksana” dan “mampu
memilih dengan tepat dari berbagai pilihan yang rumit”. Untuk mengetahui apa
makna dari “seorang presiden yang bijaksana” maka dengan menggunakan intuisi
kita apakah bijaksana dalam wacana pertama bersinonim dengan wacana yang kedua?
Maka intuisi yang akan berbicara. Ya. “seorang presiden yang
bijaksana”=”seorang presiden yang mampu memilih dengan tepat dari berbagai
pilihan yang rumit”.
Namun
jika mengandalkan intusi, maka akan banyak intuisi-intuisi yang berbeda, karena
pada dasarnya memang setiap orang boleh memknai sesuatu sesuai intuisinya
masing-masing, oleh karena itu, dalam pendekatan ini akhirnya memakai
pembatasan intuisi yang nantinya akan mengatur penggunaan intuisi tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar