Kamis, 12 Januari 2012

Logika di Dalam Bahasa Harian




            Penggunaan bahasa bagi para pemakai bahasa pada umumnya sering kali memunculkan banyak ketaksinkronan, seperti bahasa yang ambiguitas dan kekacauan struktur yang kemudian menimbulkan berbagai bentuk argumen atau simpulan yang keliru atau ketaklogisan dalam berbahasa. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, tentu ada rumus yang melandasi pemakaian bahasa tersebut. Pemakai bahasa menggunakan logika yang disebut logika alami untuk mengungkapkan segala maksudnya. Namun jika kita mengetahui bagaimana kaidah dan ciri pemakaian logika alami tersebut, tetap saja kita akan terjerumus pada penggunaan bahasa yang ambigu dan kacau. Logika alami ini memiliki ciri-ciri yang sama dengan logika di dalam matematika atau ‘kalkulus’.
            Untuk mengetahui apakah bahasa yang kita gunakan logis dan tidak mengandung unsur ambigu serta kerancuan, kita perlu mengetahui beberapa ciri-ciri logika dari makna atau yang disebut dengan formator.
            Yang pertama yaitu penggunaan kata ingkaran atau disebut formator negatif not. Banyak pemakai bahasa yang masih menggunakan kata ingkaran ganda dalam satu kalimat, yaitu meletakkannya pada predikat dan argumen. Dan kaidah yang baik adalah meletakkan ingkaran pada predikat, bukan pada argumen.
            Yang kedua yaitu penggunaan kata ‘atau’,’dan’. Kedua kata ini menghubungkan dua kalimat yang memiliki predikat yang berbeda. Terkadang pemakai bahasa menyamakan fungsi kedua kata ini, akibatnya terjadilah ketidaklogisan bahasa. Kata atau mengandung hubungan kontras atau oposisi dengan predikasi-predikasi yang dihubungkan. Kata dan mengandung hubungan timbal balik persyaratan, akibat, dan kontradiksi.
            Yang ketiga yaitu penggunaan kata ‘beberapa’ dan ‘semua’. Penggunaan kata beberapa dan semua ini lebih mudah dijelaskan dengan kalkulus. Dengan menyatakan kalimat mana yang ekuivalen jika menggunakan kata beberapa dan mana yang tidak ekuivalen. Begitu pula penggunaan bahasa silogisme, kaidah yang benar yaitu:
a)      Semua mahasiswa berbaju hitam (premis 1)
b)      Tesa adalah seorang mahasiswa (premis 2)
Jadi
Tesa berbaju hitam.
Pada contoh diatas, jika dihilangkan salah satu premisnya, maka simpulan yang didapat dinyatakan tidak logis. Misal:
            Ayah adalah kepala rumah tangga, jadi ayah berhak menentukan kebijakannya.
Dalam kalimat diatas, terdapat premis yang dihilangkan, maka kalimat diatas dinyatakan kurang memenuhi syarat logika alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar