Penggunaan
bahasa bagi para pemakai bahasa pada umumnya sering kali memunculkan banyak
ketaksinkronan, seperti bahasa yang ambiguitas dan kekacauan struktur yang
kemudian menimbulkan berbagai bentuk argumen atau simpulan yang keliru atau
ketaklogisan dalam berbahasa. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, tentu ada
rumus yang melandasi pemakaian bahasa tersebut. Pemakai bahasa menggunakan
logika yang disebut logika alami untuk mengungkapkan segala maksudnya. Namun
jika kita mengetahui bagaimana kaidah dan ciri pemakaian logika alami tersebut,
tetap saja kita akan terjerumus pada penggunaan bahasa yang ambigu dan kacau.
Logika alami ini memiliki ciri-ciri yang sama dengan logika di dalam matematika
atau ‘kalkulus’.
Untuk
mengetahui apakah bahasa yang kita gunakan logis dan tidak mengandung unsur
ambigu serta kerancuan, kita perlu mengetahui beberapa ciri-ciri logika dari
makna atau yang disebut dengan formator.
Yang
pertama yaitu penggunaan kata ingkaran atau disebut formator negatif not.
Banyak pemakai bahasa yang masih menggunakan kata ingkaran ganda dalam satu
kalimat, yaitu meletakkannya pada predikat dan argumen. Dan kaidah yang baik
adalah meletakkan ingkaran pada predikat, bukan pada argumen.
Yang
kedua yaitu penggunaan kata ‘atau’,’dan’. Kedua kata ini menghubungkan dua
kalimat yang memiliki predikat yang berbeda. Terkadang pemakai bahasa
menyamakan fungsi kedua kata ini, akibatnya terjadilah ketidaklogisan bahasa.
Kata atau mengandung hubungan kontras atau oposisi dengan
predikasi-predikasi yang dihubungkan. Kata dan mengandung hubungan
timbal balik persyaratan, akibat, dan kontradiksi.
Yang
ketiga yaitu penggunaan kata ‘beberapa’ dan ‘semua’. Penggunaan kata beberapa
dan semua ini lebih mudah dijelaskan dengan kalkulus. Dengan menyatakan kalimat
mana yang ekuivalen jika menggunakan kata beberapa dan mana yang tidak
ekuivalen. Begitu pula penggunaan bahasa silogisme, kaidah yang benar yaitu:
a) Semua mahasiswa
berbaju hitam (premis 1)
b) Tesa adalah
seorang mahasiswa (premis 2)
Jadi
Tesa berbaju hitam.
Pada contoh diatas,
jika dihilangkan salah satu premisnya, maka simpulan yang didapat dinyatakan
tidak logis. Misal:
Ayah
adalah kepala rumah tangga, jadi ayah berhak menentukan kebijakannya.
Dalam kalimat diatas,
terdapat premis yang dihilangkan, maka kalimat diatas dinyatakan kurang
memenuhi syarat logika alami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar