Kamis, 12 Januari 2012

Keroncong Tanah Airku, Keroncong-Pertama Ku



Aku terlahir dari keluarga yang –bisa dibilang– keluarga seniman. Kakek-nenekku adalah penyanyi keroncong, tanteku yang umurnya sebaya denganku juga mewarisi bakat dari mama-papanya. Hanya saja tante berbeda aliran musik. Kata tante, jazz lebih keren. Mamaku juga seorang penyanyi. Hanya saja, jam terbangnya tak seperti kakek dan nenek. Pernah dulu –kata mama– saat kebingungan mencari uang, mama sempat bekerja menjadi penyanyi di hotel. Kalau papa jangan ditanya, menyanyi satu reff saja sudah mengguncangkan dunia karena suaranya yang sumbang. Mungkin gen mamaku lebih banyak menyumbang dari pada gen papa saat reproduksi berlangsung. Alhasil, munculah Aku yang mewarisi gen mama, menjadi seorang perempuan cantik jiplakan mama yang –bisa dibilang– bisa menyanyi.
Kesempatan itu datang tiba-tiba ketika bakat menyanyiku masih ecek-ecek. Mungkin memang benar, Allah mendengar segalanya, sampai keinginanku yang tak terucap oleh bibir pun bisa terdengar. Dia Maha Mendengar. Tiba-tiba pada suatu hari, aku yang tergabung dalam tim paduan suara SMP, dinominasikan untuk mengikuti PORSENI JATIM mewakili sekolah pada cabang Vocal Group. Aku senang sekali karena aku sangat berminat pada dunia tarik suara, terutama tentang harmonisasi suara. Tanpa penyaringan dari sekolah, aku tergabung bersama tim Vocal group sekolah untuk mengikuti penyaringan dari kabupaten.
Latihan pertama pun datang. Aku tak sabar mengetahui lagu apa yang akan aku nyanyikan bersama timku untuk PORSENI JATIM nanti. Tanteku juga ikut tergabung bersama kami –kontingen atlet PORSENI JATIM–, namun aku dan tante berbeda cabang. Tanteku meneruskan perjuangan mama-papanya, yaitu pada cabang karaoke keroncong. Tempat latihan kami hanya berbeda ruangan. Aku bersama tim vocal groupku dan tante hanya ditemani guru vocal. Latihan kami memang harus intensif, karena sekolahku terlambat mengetahui adanya penyaringan oleh kabupaten. Setengah perjalan, saat aku sibuk memilih lagu pilihan yang akan kami garap, tiba-tiba guru vocalku –sebut saja namanya adalah Bu Rani– memanggilku, memintaku untuk mencoba menyanyi keroncong. Aku yang tak pernah sekali pun menyanyi keroncong dan hanya mendengar di tiap hari minggu –ketika kakek mendengarkan acara keroncong kesayangannya di radio–, bahkan tak menyukai dan tak memiliki rasa tertarik sedikitpun pada musik tersebut, kontan merasa kaget dan berusaha untuk menolak. Namun beliau tetap memintaku untuk mencoba. Rupanya beliau lebih tahu kemampuan anak didiknya, tapi aku tak yakin sepersen pun bahwa aku bisa membawakan lagu mendayu-dayu itu.
Inilah kali pertama aku bernyanyi keroncong, entah...mungkin yang mendengar akan menutup telinga –Mendengar Bengawan Solo dinyanyikan oleh suara yang tak merdu sama sekali– dan berteriak untuk menghentikan penyiksaan itu. Herannya dan ajaibnya, tiba-tiba Bu Rani mengiya kan begitu saja untuk percobaan menyanyi keroncongku. Hari itu juga, aku mati-matian merubah cengkok pop ku menjadi cengkok Waljinah –penyanyi keroncong yang terkenal– dengan bimbingan Mas Alvin. Sungguh aku putus asa karena tak bisa menyanyi dengan cengkok –yang kalau didengar seperti meninggi sedikit dibelakang dengan interval panjang, serta vibra yang kendur teratur– indah seperti Waljinah. Sampai hari H, hari penyisihan –yang hanya berselang 4 hari dari hari latihan pertama– aku tak PD sama sekali. Jelas penyebabnya adalah aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas VIII menyanyikan lagu mendayu-dayu, lagu yang tak biasanya dinyanyikan oleh remaja seusiaku, bahkan tiga tahun diatasku, dengan kemampuan yang hanya hasil didikan dan latihan selama lima hari. Merubah cengkok pop menjadi cengkok keroncong –yang amat susah– bagiku.
Alhamdulillah, hasil latihan dan memaksakan pita suaraku untuk mengeluarkan cengkok keroncong tak sia-sia. Memang benar, manisnya hidup akan terasa setelah kita berlelah-lelah. Aku lolos untuk mewakili kabupaten –menyanyi keroncong– di Jawa Timur. Sungguh tak pernah sekali pun aku membayangkan akan menyanyi keroncong, apalagi mengikuti lomba keroncong, dan tak kusangka-sangka lagi mewakili kabupatenku untuk bersaing di Tingkat Jawa Timur. Subhanallah. Kesempatan yang indah yang Gusti Allah berikan kepada Hamba. Dan inilah lagu keroncong pertamaku –keroncong tanah air, Kelly Puspito– yang membawaku hingga PORSENI JATIM nanti.
Setelah lolos seleksi, aku bersama teman-teman yang juga lolos seleksi, termasuk tante dan tim vocal groupnya terbang ke Asrama Haji-Sukolilo, Surabaya. Kami dikarantina selama lima hari untuk bersaing dalam bidang Olah raga dan Seni dan memperjuangkan nama kabupaten masing-masing ditingkat Jawa Timur. Tak pernah kusangka cengkok keroncongku mampu membawaku ke dunia baru. Aku mendapatkan banyak kenalan dari berbagai kecamatan dan sekolah –yang sebenarnya satu kontingen denganku–, juga dari berbagai kabupaten. Kami latihan bergilir di kamar yang cukup luas, dengan dipan susun berjumlah empat –yang tertata rapi ditiap sudut ruangan–. Tiap malam, kamarku lah yang ramai. Teman-teman yang satu kontingen dari Kabupaten Pasuruan yang berbeda cabang denganku kumpul jadi satu di kamarku. Alasannya singkat, mencari hiburan. Karena memang kamarku –kamar tente bersama tim vocal group dan guru pembimbing kami– lah yang paling Full music. Pada jam-jam tertentu pasti akan mendengar pertujukan vocal group dan karaoke keroncong. Dari situlah aku mendapatkan dorongan motivasi yang tinggi. Mereka semua meluangkan waktu istirahatnya untuk menonton latihanku dan memberi semangat.
Pada hari keempat –jadwal lomba karaoke keroncong dan vocal group pada jam yang sama tetapi gedung yang berbeda– perlombaan dimulai. Inilah hari yang menentukan bagiku. Banyak kontingen dari kabupatenku yang telah gugur di cabang-cabang lainnya. Hatiku sungguh tak keruan, tanganku mendadak sedingin es, dan mukaku entah sepucat apa. Aku hanya diam, duduk disamping guru pembimbingku, dan melongo mendengar suara serta cengkok peserta –yang sedang menyanyi didepan– yang sudah benar-benar terbentuk apik, seperti penyanyi dewasa saja. Lhah, aku? Suaraku masih cempreng, suara anak-anak dengan cengkok keroncong seadanya. Rasanya aku ingin mundur saja, ada rasa penyesalan pula menyelip tiba-tiba di kepalaku. “Andai aku tak menerima tawaran untuk mengikuti PORSENI ini, aku tak akan malu nantinya, karena harus menyanyi didepan mereka.” Aku hanya berdoa –Ya Allah, berikanlah aku mental dan kepercayadirian untuk menyanyi didepan juri–, karena memang suaraku tak bisa diandalkan saat ini. Entah ini apa namanya, atau memang kebodohanku. Dua hari yang lalu, larut malam, aku dan teman-teman sekamar keasyikan bercanda dan mengemil secara diam-diam. Karena memang kami diperintahkan untuk banyak istirahat mengingat hari perlombaan sudah dekat. Namun kami yang lalai, akhirnya tidur larut malam ditemani dengan stick balado yang pedas dan menggiurkan. Paginya suaraku menghilang entah kemana. Yang keluar dari getaran pita suaraku hanya suara serak yang besar dan menakutkan. Akhirnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan pun, turun mengatasi masalah ini. Haha...seperti masalah yang genting saja. Sekantong plastik kencur –yang khusus diberikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan– menjadi menu utama camilanku. Mau muntah awalnya, tapi harus kulakukan sebagai konsekuensiku melanggar perintah. Namun setelah ngemil kencur selama dua hari, suaraku tak kunjung kembali. Akhirnya dengan bekal doa dan latihanku serta kepsarahanku, aku berangkat berperang.
Yah, sepertinya hasil perlombaan karaoke keroncongku sudah dapat ditebak. Jelas, aku kalah telak. Namun aku sungguh bodoh kalau berfikir hal ini memalukan. Aku harus bangga. Tak banyak remaja seusiaku yang bisa mendapatkan kesempatan sepertiku. Mulai dari belajar nyanyi keroncong, yang notabene tak banyak peminat dari remaja, bahkan tak banyak yang bisa meyanyikan lagu itu. Tapi aku –bisa dibilang– sudah bisa, hanya saja perlu berlatih untuk memoles. Hingga kesempatan untuk berkumpul dan berkenalan dengan teman-teman berbeda kabupaten, dan bernyanyi di depan juri mewakili kabupaten. Sungguh kesempatan indah yang Allah berikan kepadaku.
Aku yang awalnya merasa malu menyanyikan lagu keroncong, hingga kini tak pernah merasa malu untuk menyanyi keroncong, karena dengan inilah aku juga ikut mempertahanan musik Indonesia, dan justru ingin menularkannya pada remaja-remaja yang lain, dan dari keroncong itulah kini aku juga mampu membawakan campur sari, walau hanya beberapa lagu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar