Kamis, 12 Januari 2012

Hubungan Antara Filsafat Dengan Bahasa



            Bahasa merupakan suatu sistem simbol yang memiliki makna dan digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi oleh manusia. Bahasa tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi, bahasa juga digunakan manusia untuk mengekspresikan emosi, serta menuangkan dan mengungkapkan hasil berfikir manusia terutama dalam mencari hakikat dari suatu realitas.
            Antara Filsafat dan bahasa, tentu saja sangat berkaitan erat. Dari pengertian bahasa diatas, dapat kita tangkap, bahwa untuk mencari serta mengungkapkan hakikat dari suatu kenyataan atau realitas, digunakanlah bahasa. Filsafat, memiliki tugas utama, yaitu menganalisis konsep-konsep. Sedangkan, konsep-konsep yang akan dianalisis oleh filsafat, terangkai dan terungkapkan melalui bahasa. Jadi, dalam menganalisis konsep-konsep tersebut, berkaitan dengan menganalisis bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan konsep tersebut, serta makna dari bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan konsep tersebut.
            Filsafat merupakan kegiatan manusia dalam berfikir yang berawal dari akal dan terarah, secara fundamental dan radikal, yang bertujuan untuk mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu yang ada. Tentu saja filsafat memiliki hubungan yang sangat erat dengan bahasa. Objek aktivitas filsafat adalah dunia fakta atau realitas, yang merupakan dunia simbolik yang tersusun dari bahasa. Dalam dunia fakta, didalamnya tersusun begitu banyak simbol-simbol bahasa. Jadi, untuk dapat mengungkapkan struktur-struktur realitas, haruslah digunakan simbol bahasa yang dapat diterima oleh akal yang kemudian mampu disusun menjadi suatu pengertian-pengertian.
            Tetapi, bahasa juga memiliki beberapa kelemahan dalam ungkapan-ungkapan, tentunya yang sangat berkaitan untuk aktivitas filsafat. Kelemahan-kelemahannya yaitu: (1) Kesamaran. Dalam pengungkapan melalui bahasa, masih kita temukan banyak kesamaran yang terjadi. Hali ini dikarena, makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa, pada dasarnya hanya akan terpatok pada suatu realitas itu sendiri, atau hanya mewakili suatu realitas secara umum.  Misalnya : Dalam mengungkapkan suara yang kita dengar atau musik yang kita dengar, tentu saja dalam menyusun ungkapan melaui paparan-paparan bahasa tidak akan setepat dan sejelas dengan suara yang kita dengar lansung melaui alat pendengaran kita. Kita hanya mengungkapkannya secara umum, atau hanya mengungkapkannya secara garis besarnya. (2) Ambiguitas. Dalam mengungkapkan suatu realitas melalui sombol bahasa, kita juga masih banyak menemukan suatu pengertian yang kita anggap memiliki makna ganda. Dan hal inilah yang juga sering memicu adanya kontroversi. Misalnya : Dalam kalimat “ Adik, nanti kalau ada informasi baru, tolong hubungi saya, ya? ”. Dalam kalimat tersebut, kata adik memiliki makna ambigu. Yang dimaksud dalam kata Adik, adalah anak dari ibu yang lebih muda dari kita, atau sapaan untuk seseorang yang lebih muda dari kita?. Demikian inilah yang disebut memiliki sifat ambiguitas.
            Oleh karena adanya dua kelemahan bahasa diatas yang berpengaruh terhadap kegiatan berfilsafat, akan mengakibatkan terjadinya (3) Ineksplesit. Bahasa akan bersifat ineksplesit atau tidak eksplisit karena adanya ambiguitas dan kesamaran. Bahasa seringkali tidak tepat dan bersifat tidak eksak dalam mengungkapakan suatu hasil pikiran serta gagasan-gagasan yang direpresentasikan. Karena bentuknya serta maknanya juga sering berubah sesuai dengan konteks gramatikal, social ataupun situasional, maka bahasa juga bersifat (4) bergantung konteks, yang juga merupakan kelemahan bahasa dalam hubungannya berfilsafat. Dari kelemahan-kelemahan bahasa tersebutlah, ungkapan-ungkapan bahasa termasuk gagasan-gagasan, sering menjadi (5) misleadingness. Gagasan-gagasan yang tersusun melalui bahasa, terkadang menjadi menyesatkan, karena beberapa kelemahan-kelemahan bahasa tersebut.
            Jika kita masuk kedalam atmosfer filsafat, sehubungan dengan adanya beberapa kelemahan bahasa tersebut, dalam menyusun konsep-konsep filosofi, tentunya membutuhkan penjelasan-penjelasan yang lebih lanjut dan lebih dalam agar ungkapan-ungkapan melalui bahasa tersebut tidak menjadi misleadingness. Inilah tugas pokok filasafat seperti yang telah diungkapkan diatas, yaitu menganalisis konsep-konsep. Dalam menganalisis, tentunya terdapat kegiatan berfikir, dan bernalar. Bernalar merupakan kegiatan berfikir yang berpangkal dari akal manusia, tetapi juga dihubungkan dengan hukum-hukum yang ada. Hukum dalam hal ini dapat kita katakan bahwa Kelemahan-kelamahan bahasa juga merupakan suatu hukum.
            Dari paparan-paparan bahasa yang membutuhkan penjelasan-penjelasan lebih lanjut, disinilah manusia dituntut untuk berfilsafat, dengan mengembangkan pikirannya untuk mencari suatu kebenaran dari segala sesuatu yang ada. Suatu simbol bahasa, atau paparan-paparan bahasa masih membutuhkan penjelasan yang muncul melalui proses berfikir secara fundamental dan mendasar, dengan menganalisis bahasa serta makna dari bahasa yang digunakan dalam paparan-paparan tersebut agar terciptanya suatu paparan-paparan yang jelas dan dapat diterima oleh akal.
            Dalam hal ini, dapat juga  kita ketahui, bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai simbol. Tetapi, bahasa juga berfungsi sebagai media untuk mengembangkan pikiran manusia, terutama dalam mencari serta mengungkapkan suatu kebenaran dan hakikat dari segala sesuatu yang ada.
            Dapat kita simpulkan bahwa bahasa memiliki fungsi yang sangat vital didalam aktivitas manusia, yaitu berfilsafat. Filsafat memandang bahasa bukanlah sebagai objek yang diteliti. Justru bahasalah yang digunakan sebagai alat untuk menganalisis segala sesuatu yang ada. Melalui analisis bahasa secara mendasar, akan ditemukan hakikat konsep-konsep yang seringkali menjadi problema dalam filsafat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar