Kamis, 27 Januari 2011

jangan bilang mama

Dik, Jangan bilang mama kalau aku yang setiap pagi mengambil uang recehan di atas meja,
Itu salah mama tak memberiku uang saku lebih.
jangan bilang mama juga kalau aku yang selalu merusakkan sepatu jinjitnya,
Itu salah mama tak mebelikanku sepatu jinjit.
jangan bilang mama kalau aku pergi ke mall setiap hari kamis pulang kuliah,
Itu salah mama tak mengijinkanku pergi bersama teman-temanku.
jangan bilang mama kalau aku yang menyebabkan tagihan telepon membengkak,
Itu salah mama tak membiarkanku pulang lebih malam sedikit.
jangan bilang mama kalau setiap jumat malam papa tidur seranjang denganku,
Itu salah mama tak mengijinkan aku punya pacar.



Surabaya, 27 januari 2011

Jumat, 14 Januari 2011

Aku Ingin

Aku memang bukan seseorang yang pandai mengungkapkan semuanya dengan gamblang padamu, sayang… Tapi aku ingin… Aku ingin seperti ibumu yang setiap hari bisa mengomel padamu, Aku ingin seperti ayahmu yang punya waktu luang untuk ngopi bareng denganmu, Aku ingin seperti adikmu yang bisa mengganggumu seenaknya, semaunya, Aku ingin seperti kakakmu yang bisa menyuruhmu untuk melakukan pekerjaannya, Aku ingin seperti teman-temanmu yang tak merasa sungkan meminjam ini itu padamu, Aku ingin seperti guru privatmu yang bisa berbicara panjang lebar denganmu, Aku ingin seperti mereka, Bisa bertemu dan bersamamu setiap hari dengan begitu, aku punya banyak kesempatan untuk bilang “aku ingin putus”. Surabaya, 14 Januari 2011

Rabu, 05 Januari 2011

Fedli,namanya...

Seminggu yang lalu, aku berkenalan dengan seorang laki-laki di sebuah toko musik.
Kurasa umurnya sebaya denganku.
Alisnya tebal, hidungnya mancung, matanya tajam.
Kulitnya sawo mentah dan bersih.
Tubuhnya wangi, parfumnya tercium walau aku berdiri setengah meter darinya.
Dengan kemeja garis-garis hitam-putih, dan lengan kemeja yang dilingkis sedikit,
rasanya sudah menjadi alasan yang tepat untukku dan
semua wanita tak henti memperhatikan tingkahnya.

“Fedli”
itu yang dia sebut saat mengulurkan tangannya padaku,
dan mengawali pertemuan-pertemuan berikutnya.

Beberapa minggu kemudian, aku berkenalan dengan seorang laki-laki, di teras rumahku.
Kurasa umurnya sebaya denganku.

“Fedli, namanya”
Itu yang Mama sebut saat memperkenalkan calon suaminya padaku.




Surabaya, 5 Januari 2011