Selasa, 15 April 2014

Surat Cinta Untuk Film

Untukmu, yang kurindu.

Untukmu, yang memberitahuku bahwa alamku ini sungguh indah,
tetaplah selalu memberitahuku bahwa aku tidak perlu mencari salju dingin di Eropa, beritahu padaku bahwa aku tidak perlu pergi ke perbatasan Yordania dan Palestina, beritahu padaku bahwa aku akan menemukan green canyon di ciamis, bahwa aku tidak perlu menginjak tanah lain selain tanah yang kuinjak sekarang ini.
Untukmu, yang menyadarkanku bahwa aku tidak hidup sendiri,
tetaplah selalu menyadarkanku bahwa aku hidup dengan banyak macam manusia, sadarkanlah aku bahwa hidupku yang sekarang ini sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah bisa duduk didepan layar lebar atau bahkan tidak pernah bisa masuk di gedung ini untuk melihat senyum orang-orang yang sedang berbelanja. Sadarkanlah aku bahwa aku hidup bersama anak-anak yang menunggu uluran tanganku.
Untukmu, yang mengajarkanku bahwa indah jika banyak warna di setiap sudut dunia,
tetaplah selalu mengajariku apa arti warna merah pada benderaku, bagaimana warna hijau menyegarkan mata, mengapa warna biru perlambang laut, dimana letak warna hitam dan siapa yang memiliki warna putih. Ajarkanku untuk menyukai semua warna yang tepercik di dinding dunia. Ajarkanku untuk melihat indahnya kulit hitam dan putih, rambut lurus dan keriting, gemuk dan kurus jika bersama, seperti pelangi yang memiliki banyak warna berbeda.
Untukmu, yang mengenalkanku pada siapa dan bagaimana bumi ini bermula,
tetaplah selalu mengenalkanku dengan bumiku dan hidupku, tentang berbagai cara unik seperti bagaimana cara untuk menerbangkan layangan hingga menari di atas langit, bagaimana cara mengendarakan motor hingga menuju ke tempat yang benar, bagaimana cara mengungkapkan kesalahan dengan cara tidak salah, dan kenalkan aku pada dunia yang baru dengan ilmu yang baru.
Untukmu, yang mengingatkanku bahwa dunia ini ada pemiliknya,
Tetaplah selalu ingatkan aku bahwa manusia seperti kita punya hak untuk memilih menjadi pemain antagonis atau protagonis, ingatkan aku bahwa ada masanya aku diberi sesuai dengan yang aku beri, ingatkan aku bahwa aku punya tempat dan aku punya siapa untuk meminta, ingatkan aku jika kita sebagai pemeran antagonis atau protagonis hanya perlu mengikuti jalan cerita seperti yang sutradara inginkan, dan ingatkan aku bahwa kita hanya perlu bergantung pada pemilik dunia.

Kau tahu? Aku perlu diberitahu bahwa aku tidak perlu mencari di tempat jauh yang belum aku kenal untuk menemukan keindahan yang fana seperti melihat matahari dari puncak gunung semeru, agar aku tidak pergi menuju tanah dingin seperti di eropa, agar aku tahu negeriku ini tidak kalah indah dengan negeri di luar.
Kau tahu? Aku perlu disadarkan bahwa aku harus menengok ke bawah untuk menyadari bahwa anak-anak yang ingin belajar tentang negeri ini perlu dituntun untuk pergi ke sekolah, agar aku tidak selalu merangkak ke atas tanpa memperdulikan apa yang akan jatuh sebagai injakkanku, agar aku sadar bahwa di negeri ini masih ada yang butuh untuk ditemani, dipeluk, dirangkul dan diajak merangkak ke atas.
Kau tahu? Aku perlu diajari berbagai macam makna warna yang ada dimataku untuk memahami karakter masing-masing warna agar aku tahu satu warna bisa terdiri dari berbagai warna seperti ungu yang berasal dari merahnya darah dan birunya laut. Aku perlu diajari bagaimana menghormati makhluk yang memiliki berbeda bahasa, berbeda suku dan berbeda budaya agar tidak ada lagi perdebatan tentang siapa yang unggul karena negeri ini akan indah jika seperti pelangi, banyak warna.
Kau tahu? Aku perlu dikenalkan dengan berbagai macam ilmu yang belum aku tahu sebelumnya agar aku tak berhenti begitu saja mencari ilmu yang lain. Aku juga perlu dikenalkan  dengan siapa yang pernah mengenalkan bumi padaku agar aku tidak lupa berterima kasih pada mereka. Aku juga perlu dikenalkan tentang bagaimana membentuk bumi ini layak dihuni agar aku tidak banyak menggunakan kertas yang lama-lama menghabiskan pohon dan membuat bumi gersang. Aku perlu semua itu agar bumi tetap sama dilihat nanti 200 tahun kedepan.
Kau tahu? Aku perlu diingatkan bahwa aku masih punya tuhan. Dengan begitu aku tidak perlu putus asa dengan berbagai harapan yang tak sampai. Agar aku ingat bahwa tuhan memiliki rencana yang baik untuk masing-masing manusia yang berperan untuknya. Agar aku ingat, bahwa tempatku  bergantung hanya padaNya.
Jadi, untukmu, tetaplah bercerita padaku dan semua orang tentang indahnya Indonesia, tentang adanya dunia yang perlu kita perhatikan, tentang menakjubkannya perbedaan, tentang keselamatan bumi, dan tentang kekuasaanNya.

Dariku, yang merindumu.

Penguntit

Kini aku sudah lega. Tidak lagi gelisah. Dia sudah pergi. Tidak ada lagi orang yang menguntitku, dan tidak ada lagi anak panti yang bertanya-tanya padaku.
Aku tinggal di panti asuhan bersama beberapa teman yang baru kukenal. Sejak tidak punya rumah, pembantuku menitipkan aku ke sebuah panti asuhan. Saudara yang lain juga sependapat. Katanya anak remaja seperti aku harus punya banyak teman untuk diajak bicara. Jadi mereka meninggalkanku di sini. Tapi bagiku, anak-anak di sini tidak akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan ayah dan ibu. Jadi percuma saja aku berbicara pada mereka. Mereka tidak tahu apa-apa.
Sejak rumahku terbakar, ayahku meninggal, dan ibuku sakit jiwa, ada seseorang yang diam-diam mengikutiku. Entah sudah berapa lama orang itu mengikutiku. Aku baru menyadarinya beberapa hari yang lalu. Saat itu, aku duduk di pekarangan belakang panti asuhan. Seperti biasanya, aku hanya merenung dan menghindari anak-anak lainnya yang selalu bertanya-tanya tentang aku. Tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang memerhatikan gerak-gerikku. Aku tetap diam ditempat. Bola mataku bergerak ke kanan dan ke kiri. Tapi jangkauan mataku belum menemukannya. Jika aku bergerak, aku takut orang itu akan hilang dan aku tidak akan tahu siapa dia.
Aku berusaha mencari sosoknya di sudut jangkauan mataku. Lama-lama bulu kudukku merinding. Aku merasa sosok misterius itu dekat di belakangku. Aku takut dia akan menyerangku dari belakang. Tanpa menoleh ke belakang, aku berlari ke dalam kamar. Teman-teman melihatku. Mereka kelihatannya heran. Aku tidak peduli. Aku tetap berlari menuju kamar lalu tidur.
Keesokannya, aku kembali ke pekarangan belakang. Dengan berjalan setengah mengendap karena takut ada seseorang yang tahu keberadaanku, aku kembali duduk dan merenung. Teman-teman mengajakku bermain. Tapi aku tidak mau. Mereka tidak mengerti aku sedang sedih dan terpukul. Mereka malah mengajakku bermain. Mereka meledekku. Karena itu lebih baik aku duduk di pekarangan belakang.
Saat aku duduk merenung, tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang memperhatikanku. Sepertinya orang yang kemarin mengintipku datang lagi. Tapi sekarang aku merasa orang itu semakin berani mendekatiku. Bulu kudukku berdiri. Keringat dingin muncul. Badanku menggigil. Tapi kuberanikan diri untuk menoleh kebelakang. Saat aku menoleh, aku melihat sosok yang tinggi dan sedikit kurus dengan tubuh yang hitam pekat berada di belakangku. Aku sontak berteriak dan berlari. Aku berlari sekencang mungkin, tapi dia masih mengikutiku. Aku bersembunyi di balik pohon beringin besar di pekarangan belakang. Dengan nafas yang ngos-ngosan, aku mengintip dari balik pohon. Orang itu sudah hilang. Aku kembali mengatur nafasku. Aku harus berlari menuju ke dalam panti. Agar orang itu tidak dapat mengikutiku.

Aku berlari dengan langkah yang sangat lebar. Dia mengikutiku. Aku berputar melewati pintu sebelah barat panti. Dia tetap mengejarku. Aku berlari secepat mungkin untuk menggapai pintu barat panti dan berharap dia tidak dapat mengejarku di dalam panti. Tapi yang kutahu, dia pasti mengikuti masuk ke dalam panti karena aku tidak sempat menutup pintunya. Aku berteriak minta tolong dan berlari menuju kamar, kemudian sembunyi di balik selimut. Tidak lama kemudian anak-anak panti yang lainnya datang. Mereka semua panik dan bertanya padaku. Tapi benar dugaanku. Mereka tidak tahu apa-apa.
Aku mengusir mereka keluar dari ruangan. Aku perlu berpikir, mencari cara bagaimana agar orang ini berhenti mengikuti. Aku ingat. Di ujung jalan sebelum ke panti, ada sebuah jembatan. Di bawahnya ada tebing yang curam. Segera aku berlari. Penasaran, aku menoleh ke belakang. Dan benar saja. Orang itu masih saja mengikutiku. Aku berlari kencang menuju ujung jalan. Dengan optimistis aku tertawa. Sebentar lagi aku akan mengusirnya. Aku berteriak memakinya dan mengancamnya untuk berhenti mengikuti sebelum tiba di jembatan. Tapi sepertinya dia tidak peduli dengan ancamanku. Ternyata nyalinya besar juga. Aku semakin kencang berlari. dan setiba di pinggir jembatan. Aku berhenti. Aku memberanikan diri untuk berhadapan dengannya. Aku tertawa. Dia ikut tertawa. Aku melompat. Dia ikut melompat.
Benar saja. Setelah aku melompat dari jembatan, dia sudah tidak mengikuti lagi. Sepertinya dia sudah mati. Bagaimana mungkin dia masih hidup setelah melompat ke tebing yang banyak bebatuan dengan kedalaman 25 meter. Aku tertawa puas dan kembali ke panti asuhan. Berjalan santai sambil sesekali menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada sosok hitam kurus yang menguntitku.

Kini aku sudah lega. Tidak lagi gelisah. Dia sudah pergi. Tidak ada lagi orang yang menguntitku, dan tidak ada lagi anak panti yang bertanya-tanya padaku.

Sabtu, 08 Februari 2014

Biar Saja Terjadi Endapan

Kau tahu? Aku sudah mendeteksi zat-zat aneh yang muncul padaku saat pertama melihat kau berjalan menghampiri. Ada yang membuncah di ubun-ubun. Entah zat apa ini. Yang pasti ini seperti perubahan kimia, yang menimbulkan zat baru. Ada pembentukan endapan baru, ada perubahan warna.
Aku seperti air kapur yang kemudian kau tiup yang awalnya akan menjadi keruh, lalu beberapa saat kemudian jernih dengan endapan di dasarnya. Kau membuatku keruh. Saat membaca pikiranmu lewat semua gerak-gerik dan tuturmu, aku tak mengerti. Tapi aku tahu ada yang harus kuketahui dan kumengerti. Namun lagi-lagi kau membuatku keruh yang tak berendap.
Aku seperti air kapur yang keruh. Bingung mencari jernih. Saat membaca pikiranmu lewat semua senyum dan tawamu, aku tak mengerti. Tapi aku tahu ada yang harus kuketahui dan kumengerti. Namun kau masih membuatku keruh, tak kutemukan jernih menghampiriku.

Kau seperti hembusan karbondioksida yang mengeruhkan air kapur. Memutihkan yang bening, menggertak yang hening. Aku hening saat itu, namun tidak saat ini. Aku tahu ada yang mulai mengendap perlahan di dasar saat aku mulai menemukan jernih. Aku tahu. Aku mengerti.
Kau seperti hembusan karbondioksida yang meninggalkan endapan. Entah akan memadat kah jika kubiarkan untuk beberapa lama. Biar saja seperti ini. Jika aku koyak, aku takkan melihat endapan di air sejernih ini, atau bahkan bisa saja kau kembali membuatku keruh dan takkan meninggalkan endapan lagi untukku. Biar saja seperti ini. Mengendap di dasar.

Jumat, 01 Februari 2013

G.R.E.A.T voice

Apalah arti sebuah nama. Semua orang bisa menamakannya sesuai dengan kemauannya. Yah... namanya juga bahasa. Manasuka.

Perkenalkan... namanya G.R.E.A.T Voice. Kami menyebut diri sebagai vocal group :) seperti nama kami yang terdiri dari 5 huruf, kami juga punya 5 suara. Suara Gwen, suara Refia, suara Edwin,suara Anas dan suara Tesa.

Aliran musik kami... suka-suka. Groove, pop, jazz, melayu, keroncooong? BISA! Karena itulah kami menyebut diri GREAT :)

Project pertama kami... could it be...
Seperti doa kami, could it be GREAT!
(Foto menyusul yah?) Hihihih

Senin, 31 Desember 2012

may it be nice on june

Juni atau Maret?
semuanya sama-sama di tahun 2013.
Maret ke Juni hanya berselang 3 bulan :)
Yah... kuputuskan, JUNI saja aku menjemputmu, toga.

may it be nice on june :)
sekarang, masih berjuang, tetap berjuang!!! GOOOGOGOGO!!!!

Senin, 24 September 2012

#Haruskah sampai kini kita tetap bermain 'kotak pos'?





       Pernah bermain bersama teman-temanmu saat kamu kecil? aku ingat saat itu... kita bernyanyi sambil menepuk tangan teman di samping kita, bernyanyi "Kotak pos belum diisi. Mari kita isi dengan misi-misian......"
      Saat itu kita selalu bersebelahan. Katanya kamu takut dengan Reny, teman kecil kita yang selalu mengejar kamu sambil membawa permen karet dan berteriak-teriak "Nino...Nino... ini untuk kamu...". maka dari itu, setiap kita bermain kamu selalu berdiri disampingku.
      Hihihi... jadi ingat saat kamu menangis karena rambut kamu dihinggapi permen karet. Saat itu kamu baru saja memotong rambut dan membentuk rambut baru kamu seperti rambut yang 'menantang tuhan'. Sambil bergaya dan berlagak peragawan kamu memamerkannya padaku. Tiba-tiba Reny datang sambil berteriak-teriak dan bertepuk tangan keras sekali.
      "Hebat... hebat! Keren No!" seperti pertunjukan, Reny melemparimu dengan persediaan permen karet yang ada di dalam tasnya yang selalu dibawa kemana-mana. Tanpa sengaja, Reny juga melemparimu dengan bekas permen karet yang sudah dia kunyah, dan menempel di rambut kamu.
      Hahaha... aku ingat wajah kamu saat itu. Kamu menangis. Lalu berlari pulang. Sejak saat itu kamu benci dengan permen karet, dan selalu ada disampingku saat kita bermain.
      Kamu ingat saat bermain 'kotak pos'? Biasanya aku yang menepuk tanganmu dahulu, lalu kau menepuk tangan teman disebelahmu.
      kamu ingat saat bermain 'kotak pos'? terkadang kau yang menepukku lalu aku melanjutkannya kepada teman yang lain.
      Haruskah sampai kini kita tetap bermain 'kotak pos'?

#bersambung